Refleksi: Memaknai Studi Ekskursi Kelas X 2020

Intisari pendidikan Jesuit ada pada refleksi. Melalui refleksi, siswa De Britto berkesempatan untuk memaknai pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan selama Studi Ekskursi. Berikut adalah kisah dan refleksi salah satu siswa kelas X, Emmanuel Tendean X MIPA 2. Nuel membagikan cerita dan refleksinya kepada teman-temannya pada hari Sabtu, 11 Januari 2020.

Nuel dan teman-teman ditempatkan di industri jamu di daerah Turi. Mereka mendapatkan banyak pengalaman menarik, yang tentu belum pernah mereka alami. Selama satu minggu, mereka melihat, merasakan, dan terlibat secara langsung dalam dinamika sehari-hari industri jamu. Ini adalah cerita dan refleksi singkatnya di hari keempat.

“Pada hari keempat studi ekskursi, saya dan teman-teman membuat dua jenis jamu yang menurut pak Sarjono dan istrinya adalah minuman kesukaan banyak orang: beras kencur dan kunyit asem. Pembuatan dua jenis jamu ini dilakukan secara bersamaan. Maka, pembagian kerja yang jelas amat dibutuhkan agar proses pembuatan berjalan dengan baik.

Awalnya saya bingung saya harus membantu pembuatan jamu yang mana. Beras kencur  atau kunyit asem? Akhirnya, saya memutuskan untuk membantu membuat beras kencur lebih dulu, karena menurut saya prosesnya lebih panjang daripada pembuatan kunyit asem.

Begini proses singkat pembuatan beras kencur yang saya alami langsung. Pertama, beras disangrai dan dihaluskan. Kemudian kencur dihaluskan bersama dengan beras yang juga sudah dihaluskan, disaring, kemudian diperas, dan dicampur dengan kuah gula yang sebelumnya telah dipanaskan. Kuah gula tersebut dibuat dari campuran kayu manis, cengkeh, kapulaga, serai, gula jawa, peka, garam, dan air matang. Sebelum dicampur, kuah gula disaring terlebih dahulu.

Jamu kunyit asem juga menggunakan kuah gula yang sama. Kunyit yang telah disangrai, dihaluskan, disaring dan diperas. Asam jawa dipanaskan dengan air matang. Semua bahan itu kemudian dicampur. Setelah selesai, saya dan teman-teman mencicipi beras kencur dan kunyit asem. Enak!! Kencur dan kunyitnya terasa. Setelah didinginkan, beras kencur dan kunyit asem dikemas dalam botol, dan diberi label merek.

Selama pengemasan berlangsung, saya sungguh merasakan kerjasama yang kuat  dan kerja yang sistematis antara saya dengan teman-teman, mulai dari mengemas jamu dalam botol, menyegel botol, dan melabeli botol. Dinamika sederhana ini adalah cermin kehidupan. Saya menyadari bahwa saya hidup tidak sendirian, tetapi ada bersama dengan teman (orang lain). Jika sesuatu bisa dilakukan bersama dengan teman, mengapa tidak?

Botol-botol telah terisi beras kencur dan kunyit asem yang kami buat bersama. Ini tidak akan terjadi tanpa kerjasama, kekompakan, dan komunikasi yang jelas. Saya senang dan puas bisa bersama teman-teman, pak Sarjono dan istrinya membuat beras kencur dan kunyit asem yang cukup banyak.