Objectified Cultural Capital (OCC) De Britto

Tulisan pendek ini dibuat oleh Pak Widya Kiswara, salah satu orang tua siswa kelas X, secara spontan saat menyaksikan ekspo karya ilmiah siswa kelas XI, pagelaran wayang kulit, dan ekspo hasil ekskursi di aula SMA Kolese De Britto 4 Februari 2020 yang lalu.

================================================================================

Objectified Cultural Capital (OCC) merupakan salah satu bentuk modal budaya menurut Bourdieu. OCC mengacu pada benda-benda yang menunjukkan kepemilikan modal budaya seseorang, bisa berbentuk hasil karya, sertifikat, piagam, dan lain-lain. Dan kalau kita merujuk pada teori Bourdieu tentang modal budaya, keberhasilan pendidikan bisa dilihat dari peningkatan modal budaya siswa. Salah satu hal yang bisa secara kasat mata adalah melihat OCC-nya.

Sore ini saya dan Regina Nita, sebagai orang tua murid siswa De Britto, diundang untuk menyaksikan OCC para siswa yang dipasang (dan dipamerkan) dalam bentuk eksposisi. Eksposisi ini diadakan dalam rangka Pesta Nama Johanes De Britto, yang selalu jatuh pada 4 Februari.

Karya-karya yang dipajang merupakan hasil Karya Ilmiah para siswa kelas XI. Cukup menarik, yang menjadi perhatian mereka terutama menyangkut lingkungan hidup dan kehidupan remaja (redaksi: lingkungan hidup adalah satu dari empat butir dalam Preferensi Kerasulan Universal Serikat Yesus, dan oleh karena itu menjadi perhatian kolese-kolese Jesuit global).

Ada yang meneliti bagaimana menjaga ph air untuk ternak ikan cupang, membuat perangsang tumbuh akar pohon, pengembangbiakan tumbuhan secara vegetatif, membuat mikro hidro, meneliti perilaku remaja dengan gadget, dan lain-lain. Di situ dipamerkan juga pencapaian siswa dalam lomba-lomba baik berupa tropi maupun sertifikat. Dari eksposisi ini terlihat pencapaian modal budaya siswa yang bagus.

Dalam eksposisi itu dipamerkan juga penelitian para guru, buku-buku tulisan mereka dan journal yang mereka tulis. Dari sini kita bisa melihat bahwa siswa mewarisi modal budaya dari para guru dan dari sistem pendidikan yang tercipta. Setelah menikmati eksposisi kami menikmati pertunjukan wayang kukit berjudul Wiku Arul Anandar oleh dalang Radian Pragna Jati. Dalang dan pengrawit adalah siswa-siswa JB, kecuali waranggananya. Penampilan ini juga merupakan wujud modal budaya siswa-siswa JB.

Bravo De Britto. Selamat pesta nama. (*)

(*) Widya Kiswara, orang tua siswa