Live-in Sosial: Perjuangan Mengalahkan Ego

Di De Britto, live-in adalah salah satu kegiatan formasi wajib bagi murid-murid kelas XI. Murid-murid dikirim ke tempat-tempat yang menantang tapal batas mereka. Pemilihan tempat-tempat yang menantang bukan tanpa tujuan. Ini adalah bagian dari upaya sekolah untuk membentuk mereka menjadi pribadi tangguh, yang mampu bertahan dalam ketidaknyamanan dan mengalahkan ego mereka dengan melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai.

Konsep Agere contra berlaku di sini. Agere contra adalah konsep dalam Spiritualitas Ignatian yang secara harafiah berarti “bertindak melawan” kesenangan dan kenyamanan kita, yang dalam banyak hal menghambat kita untuk menemukan kemerdekaan sejati dan hidup sepenuhnya sejalan dengan kehendak Allah. Prinsip ini melatih kita untuk melepaskan kita dari zona nyaman dan berkembang sepenuhnya sebagai pribadi.

Berikut ini adalah salah satu kisah pengalaman murid kelas XI sebagaimana dituturkan oleh ibundanya. Kisah pendek ini bisa menggambarkan bagaimana live-in adalah latihan untuk mengalahkan ego pribadi.

================================================================================

“Mah, peluuk..”

Hanya kata itu yang terucap dari bibirnya saat turun dari gojek dengan trashback hitam di punggungnya, ketika kemarin malam pulang ke rumah setelah 5 hari live in…

Cukuplah kata itu menggambarkan hatinya, dan pergulatannya 😘

==============

“Kamu kok adem ayem saja, gak khawatir?”, seorang teman heran.

Aku tersenyum… “Everything’s gonna be all right.”

5 hari kemarin adalah 5 hari perjuangan mengalahkan ego, Nak…

Berangkat tanpa tahu akan ditempatkan di mana wae sudah jadi tantangan tersendiri kan, ya Dek?

Sampai akhirnya ber-30 siswa yang dibagi dalam 3 kelompok, di tempatkan di sebuah tempat pembuangan sampah akhir (TPA).

Gak pernah kebayang kan, hidup di tempat pembuangan sampah tanpa gadget, tanpa teve dan tanpa uang sepeserpun. Juga tanpa mandi dan tanpa ganti baju… Bekerja memilah sampah basah dan kering dari penjuru kota Malang. Di pilah-pilah dan dibersihkan. Mulai bekerja memilah sampah dari jam 9 pagi sampai 4 sore, setiap hari…

Tidur berdesakan di bedéng penampungan pekerja TPA. Makan pun sama seperti makanan para pekerja disana…gak ada namanya makanan yang berbeda di setiap jam makan. Sehari itu adalah makanan yang sama dari pagi sampai malam… ditambah menahan rasa eneg setiap kali mau makan. Gak ada nasi hangat apalagi teh manis panas… 😊

Merasakan bagaimana pengapnya udara di tempat pembuangan sampah, merasakan bagaimana mengais rejeki dari barang-barang yang menurut orang lain tidak berguna, kotor dan sudah dibuang… belum lagi tikus dan kecoa yang mengajak ber-kawan setiap malam… 😄

Sebuah jenjang baru sudah kamu lewati, Nak… Ucapkanlah syukur selalu atas semuanya, bahwa semua yang kamu lewati dan jalani itu pasti akan memolesmu menjadi lebih indah… menempamu menjadi manusia seutuhnya, yang penuh empati dan welas asih. (*)

(*) Elisabeth Dwi Astuti