Sommerjugendkurs: Lebih Dari Sekadar Belajar Bahasa

Perasaan senang bercampur aduk dengan haru dan tidak percaya setelah Frau Iin Meyer, penguji dari Goethe Institut mengumumkan siapa saja yang berhak mendapatkan kesempatan terbang ke Jerman untuk mengikuti Sommerjugendkurs. Rasanya semua ini bagaikan mimpi namun itulah hasil dari perjuangan selama berbulan-bulan mengikuti kelas Intensiv A2 dan akhirnya keinginan saya untuk melihat negara Jerman terwujud di hari itu.

Sebelum berangkat ke Jerman ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, misalnya dokumen-dokumen pengajuan visa dan sidik jari di kedutaan Jerman di Jakarta. Singkat cerita setelah selesai urusan visa berangkatlah saya bersama dengan teman-teman dari Sabang sampai Merauke, mewakili Indonesia. Saya bersama 9 orang teman ditempatkan di Dresden, Saxony.

Perjalanan ke kota Dresden sangatlah panjang, kami yang bukan berasal dari Jabodetabek harus berangkat ke Jakarta sehari sebelum keberangkatan ke Jerman, dan baru besoknya berangkat ke Jerman dengan satu kali transit di Istanbul. Setelah itu saya beserta teman-teman melanjutkan penerbangan ke Berlin dan masih harus menempuh perjalanan dari bandara ke Dresden selama kurang lebih 2 jam. Sampai di Dresden kami disambut oleh panitia-panitia yang sudah ditunjuk oleh Goethe-Institut dengan hangat dan di hari pertama saya bermain dengan mereka dan juga teman-teman dari negara lain.

Keesokan harinya saya memulai hari dengan sarapan dan berkenalan dengan teman-teman yang datang di waktu yang berbeda dengan kami. Perkenalan di hari pertama sungguh menarik karena saya bertemu dengan banyak teman dari belahan dunia lain. Saya berkenalan dengan teman-teman dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Brazil, Denmark, Finlandia, India, Moldova, dan Ukraina. Setelah itu kami masuk ke kelas untuk belajar dan setiap hari kami ada kelas dari jam 09:00 sampai dengan jam 16:00.

Usai kelas kami diizinkan untuk jalan-jalan keluar dan kembali sebelum jam makan malam. Di waktu bebas ini saya sering berjalan-jalan mengelilingi kota Dresden baik dengan teman-teman dari Indonesia maupun dengan yang dari negara lain. Dresden begitu cantik dan menawan dengan kebersihan dan pemandangan kota tuanya. Ikon yang paling menarik dari kota ini adalah sebuah gereja yang pernah hancur dibom pada Perang Dunia II dan kemudian dibangun kembali pada tahun 2005. Gereja tersebut adalah Gereja Frauenkirche yang merupakan salah satu tempat favorit saya untuk nongkrong sambil menikmati sore dengan ice cream yang begitu nikmat.

Tidak terasa waktu 3 minggu berlalu dengan cepat sehingga kami pun akhirnya harus berpisah dan kembali ke negara masing-masing. Ada begitu banyak kenangan yang kami buat bersama. Ilmu bahasa Jerman yang didapat di sana bisa juga didapatkan di sekolah. Tetapi perjumpaan dengan teman-teman dari negara lain, itulah yang menjadi harta tak berharga.

Program JuKu ini bukan hanya sekedar belajar bahasa Jerman, tetapi juga banyak nilai positif yang bisa kita dapatkan. Selain membuka wawasan kita terhadap dunia luar, juga membuka sudut pandang kita terhadap orang lain, dan pelajaran PKN yang sering kita pelajari di sekolah bentuk kongkritnya ada dalam pengalaman saya ini. Saya merasa lebih mendalami bagaimana toleransi tidak hanya dengan teman-teman dari Sabang sampai Merauke, namun juga dari seluruh dunia. Apapun warna kulit, jenis kelamin, agama, dll. Kita semua diciptakan oleh Tuhan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan dunia beserta isinya. (*)

(*) Vincent Matthew Aryawan, Penerima beasiswa JuKu 2019