Kisah Relawan 161 De Britto di Tengah Pandemi

Setelah social distancing akibat merebaknya virus Corona diberlakukan, para pekerja informal seperti pengojek online, tukang becak, tukang parkir, penjual koran, pemulung dan lain-lain tidak mendapatkan penghasilan yang layak. Bahkan ada beberapa yang benar-benar tidak berpenghasilan. Menanggapi situasi ini, dua belas siswa kelas XII SMA Kolese De Britto merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Mereka kemudian berinisiatif untuk ikut ambil bagian meringankan dampak pandemi ini dengan membagikan  sembako, hand sanitizer, nasi bungkus, dan biskuit kepada mereka.

Kedua belas siswa tersebut adalah Boanerges Sumanggara Bonaparte Simanjuntak  (XIIA4), Rhobertus Hari Nugroho (XII IPS 2), Anindito Tegar (XII IPS1), Marcell Surya (XII IPS 3), Hernandika Budiyana Yofan (XII IPA 1), Stefanus verdio (XII IPS 2), Nicolas wicaksono (XII IPS1), Hugo Audrey (XII IPS 1), Christopher Orrel (XII IPA 2), Aryo Bimantaka (XII IPA 2), Antonius Yanuar Ratriaji (XII IPA 3), dan Sylvester Raditya (XII IPA 4).

Ide tersebut muncul dari obrolan santai Boanerges Sumanggara Bonaparte Simanjuntak  dan Rhobertus Hari Nugroho tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu para pekerja informal tersebut. Mereka berdua meminta pertimbangan kepada teman-teman yang lain, dan mereka sepakat dan sepemikiran untuk melakukan aksi penggalangan dana. Menurut Boanerges, tidaklah sulit untuk mengajak siswa lain terlibat. Tantangannya adalah bagaimana menyadarkan semua teman untuk berdonasi.

Kegiatan mereka ini sudah berjalan 3 kloter dan dilakukan dengan pola yang sama. Dalam satu minggu pertama mereka menggalang dana. Dua hari berikutnya, mereka membeli dan mengemas apa saja yang sudah dibeli, dan hari berikutnya mereka membagikan paket-paket tersebut kepada mereka yang membutuhkan. Sumber dana mereka adalah siswa dan orang tua siswa De Britto. Yang menarik adalah mereka juga melakukan lelang lukisan karya anak-anak De Britto. Selain itu, mereka juga melakukan survei sebelum terjun ke lapangan.

Pada kloter pertama mereka membagikan sembako dan hand sanitizer kepada 200 pengojek online. Menurut hasil survei, para pengojek online ini mengalami penurunan peghasilan sangat drastis. Pada kloter kedua mereka membagikan sembako kepada pemulung di daerah TPA Piyungan, tukang parkir dan penjual koran. Mereka juga membagikan nasi bungkus dan biskuit kaleng kepada tuna wisma, dan pada kloter ketiga para relawan 161 ini membagikan nasi bungkus kepada tukang becak dan pekerja informal lainnya.

Boanerges menuturkan bahwa mereka berencana untuk membagikan masker pada kloter berikutnya. Mereka tidak akan membeli langsung dari produsen besar, tetapi membeli kain bahan dan kemudian menyerahkannya ke penjahit-penjahit di desa, yang menurut survei sama sekali tidak berpenghasilan. Rencana ini mudah-mudahan menolong mereka. Mereka juga berniat untuk membeli paket cuci tangan berupa galon keran 5 liter dan sabun cuci tangan untuk pedagang kaki lima yang tetap berjualan, untuk membantu pencegahan penyebaran Covid-19.

Respon masyarakat sangat baik. Mereka bersyukur masih ada pelajar yang bisa melakukan sesuatu untuk mereka di tengah pandemi ini. Tidak sedikit dari mereka menangis karena rasa haru. Itulah yang membuat para relawan 161 ini bahagia. Boanerges menuturkan bahwa semangat “man for others” lah yang mendorong mereka untuk melakukan itu semua. Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah bagi mereka untuk mewujudkan arti pemimpin pelayan yang sebenarnya.