Ardy: Mbah Romo Telah Memantik Minatku

Siapa tidak mengenal Ardy, dalang remaja yang dua kali menjuarai lomba dalang tingkat nasional? Pemilik nama lengkap Gregorius Pradana Ardyamukti ini adalah siswa kelas XII Bahasa dan Budaya SMA Kolese De Britto. Ardy sudah mulai menunjukkan minat pada seni pedalangan saat kelas I sekolah dasar. Ardy kecil sering diajak ke Sendang Sono oleh Rm. Saryanto Wiryoputra, Pr, yang waktu itu menjabat Vikaris Episkopalis (Vikep) Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk mengunjungi kakek neneknya dari garis ibu. Dalam perjalanan, Mbah Romo, demikian Ardy menyebut imam projo yang masih berkerabat dengannya itu, sering ‘mendalang’ tanpa wayang sembari mengendalikan roda setir, untuk menghibur Ardy, yang menurut pengakuannya sendiri, suka mabuk perjalanan.

“Goro-goro” adalah lakon yang sering dimainkan mbah Romo. Di situlah kesukaan Ardy terhadap seni pedalangan mulai tumbuh. Ia begitu terpikat oleh karakter dan warna suara yang berbeda dari masing-masing tokoh, – Semar, Gareng, Petruk, Bagong – yang dinarasikan mbah Romo. Kadang-kadang, tutur Ardy, mbah Romo memutar kaset berisi lakon-lakon wayang. Minatnya semakin besar dan semakin terpupuk ketika ia mulai membaca buku-buku kisah Mahabharata yang ditulis Herjaka HS, pelukis dan penulis wayang terkemuka dari Yogyakarta.

Tekad dan semangatnya yang terus tumbuh mempertemukannya dengan Pak Wasdi, salah seorang pegawai Taman Budaya Yogyakarta. Dari beliaulah Ardy pertama kali belajar seni pedalangan. Setiap hari Sabtu, bocah cilik kelas 2 SD ini secara teratur datang ke Taman Budaya, yang meskipun bukan sanggar, mempunyai sarana lengkap yang dibutuhkan: seperangkat wayang, gamelan, dan  kelir. Tetapi, karena keterbatasan waktu, proses belajar tidak bisa dilanjutkan, dan Pak Wasdi menyarankan agar Ardy mencari sanggar supaya ia bisa dididik dengan lebih serius dan sungguh-sungguh.

Suatu ketika, saat Ardy duduk di kelas  3 SD, sang ibu menghadiri Parade Dalang Cilik – yang kemudian di tahun-tahun berikutnya diubah namanya menjadi Festival Dalang Cilik – diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta di Taman Siswa, yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Salah satu dalang cilik yang tampil dalam parade itu menarik perhatian sang ibu. Dari ayah dalang cilik inilah sang ibu mendapatkan informasi tentang sanggar yang tepat untuk Ardy. Sanggar itu bernama Ayodya, milik Ki Juwaraga, yang terletak di Sembungan, Bangunjiwo, Bantul.

Selama setahun penuh Ardy belajar seni pedalangan di Ayodya mulai semester 2 kelas 3 SD, di bawah bimbingan Ki Alib Biyono. Di sanggar inilah Ardy digembleng dengan serius. Di tempat inilah ia belajar semua pengetahuan dan keterampilan yang wajib dikuasai seorang dalang, yakni sabetan (teknik menggerakkan wayang yang juga sering disebut ‘cepeng’ dan ‘sabet’), suluk (nembang untuk menggambarkan situasi adegan), pocapan (dialog – dan di sinilah ia belajar sastra dan bahasa pedalangan), dan ngeprak (teknik menghidupkan suasana adegan atau dialog menggunakan alat dari kayu yang disebut cempolo, yang dipukul-pukulkan pada bibir kotak wayang).

Setahun kemudian Ardy dinilai telah menguasai seluruh materi dengan baik, dan diijinkan untuk ikut serta dalam lomba. Ardy sendiri sudah mengikuti berbagai lomba. Berikut adalah tiga yang paling menonjol:

  • Juara III Dalang Anak Tingkat Nasional diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2014
  • Juara I Dalang Remaja Tingkat Nasional diselenggarakan di Rumah Budaya Tembi tahun 2014
  • Juara II Dalang Remaja Tingkat Nasional diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2015