Alvon, Inisiator Belajar Musik Gratis Yogyakarta

Silvester Alvon Ditya Arudiskara adalah nama lengkapnya. Alumni SMA Kolese De Britto tahun 1996 ini kerap menjadi penggerak kegiatan-kegiatan penggalangan dana bagi mereka yang membutuhkan, melalui keahliannya bermusik dan relasi sosialnya yang sangat luas. Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, Alvon, begitu ia akrab disapa, sering dibantu oleh komunitas Malioboro. Alvon terlibat aktif dalam penggalangan dana untuk Sujud Kendang, salah seorang seniman Yogyakarta, korban gempa Palu-Donggala 2018, korban gempa Lombok 2018, dan kekeringan di Gunung Kidul.

Ada satu lagi inisiatif kemanusiaan yang dikerjakan Alvon bersama teman-temannya sesama seniman, yakni menyelenggarakan kursus musik gratis di Sanggar Seni Notoyudan, yang ia dirikan tahun 2017. Sanggar seni ini dinamai Notoyudan karena berlokasi di Jalan Notoyudan, Pringgokusuman, Gedong Tengen, Yogyakarta. Misi pemain biola handal dari Yogyakarta ini adalah membantu sebanyak mungkin orang yang memiliki semangat besar untuk belajar musik, tetapi secara finansial terbatas. Ia berprinsip, jangan sampai kendala keuangan menghalangi keinginan untuk belajar.

Alvon menuturkan bahwa ia sendiri pernah berada dalam posisi seperti mereka. Ia pernah mengalami keterbatasan itu. Dulu, ia tidak bisa mengambil kursus musik karena keterbatasan serupa. Itulah yang menguatkan niatnya untuk membagikan keterampilan bermusiknya secara cuma-cuma kepada siapa saja: anak-anak, remaja, maupun orang tua. Semangat berbagi inilah yang  menjadi alasannya mendirikan Sanggar Seni Notoyudan. Ia berpandangan bahwa tanpa uang pun orang tetap masih bisa berbagi ilmu.

Kehadiran Sanggar Seni Notoyudan telah menarik banyak orang untuk datang dan belajar. Awalnya, Alvon tidak menerapkan proses seleksi. Tetapi kemudian, karena jumlah peminatnya terlalu banyak – yang membuktikan respon masyarakat sangat baik – ia memutuskan untuk melakukannya dengan menetapkan dua syarat, yakni bisa baca tulis dan lolos tes kecil solfegio (ketajaman pendengaran musik, baik ritmik maupun nada).

Meskipun ini kursus musik gratis, jangan pernah mengira bahwa ini kursus asal-asalan. Kedisiplinan belajar adalah nomer satu. Murid sama sekali tidak boleh membolos, dan hanya boleh mengajukan ijin tidak masuk maksimal dua kali selama belajar. Hasilnya tak main-main. Murid-murid sanggar ini pernah menjadi juara 1 dan 2 lomba keroncong remaja tingkat nasional! Prestasi yang luar biasa, bukan?

Sanggar Seni Notoyudan menawarkan kelas biola, keyboard, gitar, vokal, dan kelas keroncong. Untuk menjalankan sanggar gratis ini, Alvon dan teman-teman mengandalkan dana bantingan, selain dukungan dari alumni-alumni De Britto berupa bantuan alat maupun pembenahan infrastruktur sanggar. Kurangnya jumlah alat dan tenaga guru, dan terbatasnya dana untuk memenuhi biaya operasional barangkali menjadi tantangan tersendiri untuk sanggar ini. Kendati demikian, mereka berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik demi kelangsungan sanggar. Salah satu jalan keluarnya adalah dengan sesekali mengadakan pementasan untuk menggalang dana. Cara  lainnya adalah, satu alat dipakai beberapa murid.

Semangat men for others (manusia bagi sesama) yang dialaminya di SMA Kolese De Britto saat ia menjadi murid telah juga menjadi semangat dasar Sanggar Seni Notoyudan. Impian terbesarnya adalah, murid-muridnya kelak bisa membagikan ilmu dan keterampilan yang mereka miliki kepada siapapun, terutama kepada yunior mereka, sebagaimana yang sekarang ia dan teman-temannya lakukan untuk mereka.